HATI YANG SAKIT
Oleh : Wasis Budiarto
Demikian sebagaimana tubuh manusia, ada tubuh yang sehat, sakit, cacat, dan mati. Hati yang sehat, sebagaimana yang telah dijelaskan dengan sangat sederhana, maka ia adalah aset yang sangat berharga, karena dengan hati yang sehat seluruh anggota tubuh akan senantiasa melakukan hal-hal yang sehat, dalam arti sesuai dengan aturan agama. Ia akan menjadi hamba yang senantiasa berusaha untuk mendekatkan diri kepada Allah, dalam rangka memenuhi panggilan untuk
bertakwa. Namun demikian, ada pula hati yang sakit, yaitu hati yang hidup namun ia mempunyai kecacatan. Ibnu Qayyim berkata bahwa hati yang sakit adalah hati yang mengelak dari penciptaannya semula, yakni umtuk mengetahui Allah, mencintaiNya, rindu bertemu dengan-Nya, kembali kepada-Nya dan mengutamakan semuannya itu atas segala syahwat.
Seandainya seorang hamba mengetahui segala sesuatu, namun ia tidak mengetahui Tuhannya, maka seakan-akan ia tidak mengetahui sesuatu. Seandainya ia mendapatkan semua dunia, kenikmatan dan syahwatnya, tetapi tidak memiliki cinta kepada-Nya, maka seakan-akan ia tidak mendapatkan kelezatan, kenikmatan, dan penyejuk hati sama sekali. Sebagaimana penjelasan dari Ibnu Qayyim, bahwa hati yang sakit adalah hati yang masih menyimpan dua cinta, yaitu cinta untuk Allah dan kepada hawa nafsu.
Didalam hati yang sakit, seringkali terjadi pertarungan antara kebaikan dan keburukan. Seolah-olah didalam hati tersebut terdapat dua orang yang senantiasa berusaha memengaruhinya. Yang pertama menyeru kepada kebaikan, sedangkan yang kedua menyeru untuk melakukan perbuatan maksiat. Sehingga adakalanya hati yang sakit itu tergoda untuk memenuhi panggilan sang penyeru yang kedua, ada kalanya ia memenuhi panggilan sang penyeru yang kedua, adakalanya ia memenuhi panggilan sang penyeru pertama. Dengan demikian, ini merupakan ujian bagi sang hati untuk membuktikan keimanannya kepada Allah.

Komentar
Posting Komentar