HATI SEBAGAI ASET YANG BERHARGA

 Oleh : Wasis Budiarto

إن لكل شئ صقا لة وصقالة القلوب  ذكر الله “Sesungguhnya segala sesuatu ada pembersihnya. Sedang pembersih hati adalah dzikrullah”. 

 Betapa berharganya hati sehingga dalam dunia Thoriqoh seorang salik harus memperhatikan syari’at dengan serius begitu juga dengan amal-amal qolbi (hati) pun mendapat perhatian yang serius. Demikianlah Thoriqoh itu Kata Abuya Dimyati: 

 ولها ثلاث صفات : الصبر على البلا ء والشكر على الرخاء   والرضا بالقضا ء 

“Thariqoh ini mempunyai tiga sifat , yaitu: 

1). Sabar ketika ditimpa musibah; 

2) Syukur ketika mendapat kelapangan, dan

3) Ridho terhadap “keputusan” Allah. 

Didalam Thoriqoh, sabar dan syukur bukanlah sifat, namun lebih dikategorikan kedalam maqam dan ahwal (amal-amal hati). Oleh karena itu, sebenarnya yang dimaksud Abuya Dimyati adalah, seorang santri yang serius di dalam menempuh thoriqoh hendaknya mempunyai sifat sabar, syukur, dan ridho. Sabar dan syukur seperti dua keeping mata uang yang tak terpisahkan. Seorang hamba bisa sabar kalau dia syukur, dan bisa dikatakan syukur kalau dia sabar. Sebab, termasuk yang hikmah-ilahiyah adalah 

bahwa di dalam setiap ni’mat selagi seorang hamba masih di dunia selalu tersembunyi “bencana” dan “ujian”. Sehingga, jika seorang hamba tidak “sabar” menerima ujian berupa nikmat ini, ia bisa terjerumus kedalam “kufur ni’mat”. Imam Ahmad Athailah telah mengatakan dalam kitabnya: Cahaya adalah bala tentara hati, sama halnya kegelapan menjadi bala tentara nafsu. Apabila Allah berkehendak menolong hamba-Nya, Dia membentangkan cahaya yang akan menjadi bala tentara hati, dan diputus-Nya hubungan yang akan membantu bala tentara nafsu oleh kegelapan. Kemudian Syaikh dimyati pernah berujar, “Dokter di zaman kita ini amat sedikit.”Hal itu, dinyatakan dalam risalahnya, yang berjudul Hadiyyah al Jalaliyah.Tentu saja, maksud Abuya Dimyati bukanlah dokter ahli kesehatan fisik, namun dokter ruhani.Lebih lanjut, pesan Abuya Dimyati lagi,


 “Hendaklah seorang hamba (santri) lari sejauh-jauhnya dari tempat –tempat yang menimbulkan fitnah agama.”Karena tempat-tempat seperti itu adalah “kawasan penyakit” yang menumbuhkan derita bagi hati, seperti halnya tubuh yang kemasukan racun atau makanan yang busuk.Sakitnya hati selalu menimbulkan derita yang berkepanjangan (dunia dan akhirat). 

pesan Abuya Dimyati berkenan dengan hal diatas (Murtadho, 2012:83):  (ولها شرط) وهو ان يهرب بنفسه من مواضع التهمة اكثر مما يخا ف من وجود الألم , فا ن مواضع التهمة  توجب السقم على  القلب كما توجب الاغدية الفا سدة السقم على   البدن. لاسيما الا طبا ء قليل “Thoriqoh menetapkan syarat (bagi muridmurid pengikut thariqoh), yakni sebagai berikut: seorang murid penempuh thariqoh hendaklah menjauhkan dirinya dari “kawasan fitnah” sejauh-jauhnya sebagaimana takutnya si murid pada derita yang ditimbulkan olehnya. Sebab, “kawasan fitnah” itu sesungguhnya biasa menimbulkan derita bagi hati, sebagaimana sakitnya tubuh karena makanan yang busuk. Terlebih, “dokter” di masa sekarang amatlah sedikit”. 

 Sumber : Jurnal Middle East and Islamic Studies, Volume 5 No. 2 Juli – Desember 2018     


Komentar

Tujuan Pendidikan Menurut Imam Ghazali

Cara Mengirim Artikel ke Opini detik.com

Tata Cara Mengirim Tulisan ke Harakatuna