MENGENAL AJARAN WALI SONGO
Oleh : Wasis Budiarto,S.Pd
Para wali songo menggunakan berbagai macam cara untuk mendekati
masyarakat supaya memeluk agama Islam. Dalam cara berdakwah para sunan yang
tergabung Wali songo terdapat dua kelompok, yaitu kelompok putihan dan abangan.
Kelompok putihan dipimpin oleh sunan Giri yang berpendapat bahwa pelaksanaan
syariat Islam harus sesuai dengan ajran asli yang tertera di dalam Al-Qur’an
dan Sunnah Rasul. Sedangkan kleompok abangan di pimpin oleh sunan kaliJaga yang
lebih menyesuaikan diri dalam berdakwah mengingat di tanah jawa pengaruh ajaran
Hindu, Budha dan Animisme masih sangat kuat. Diantara para Wali yang
dikelompokkan pada kelompok ini adalah sunan Bonang, sunan Kudus, dan sunan
Muria.
Tujuan kelompok yang dipimpin oleh sunan KaliJaga adalah untuk
menarik simpati masyarakat sehingga mereka bersedia diajak berkumpul kemudian
secara halus diajak untuk masuk Islam. Dalam berdakwah, pendapat kelompok
abangan sebagai berikut :
1.
Membiarkan
dulu tradisi yang sulit dihilangkan
2.
Tradisi
yang tidak sesuai dengan ajaran Islam yang mudah dihilangkan harus ditiadakan
3.
Masyarakat
yang amsih kuat menjalankan tradisi lama sedikit demi sedikit di pengaruhi oleh
nilai-nilai Islam.
Beberapa sunan dari Walisongo antara lain :
A.
Sunan Kalijaga
a.
Riwayat Hidup
Sunan kalijaga bernama asli Raden Mas Syahid. Semasa mudanya pernah
dijuluki Raden Lokajaya, Pangeran Tuban dan Syekh Malaya. Beliau merupakan
putra dari Tumenggung Wilatikta (Adipati Tuban) atau raden sahur dengan Dewi
Nawangrum. Lahir sekitar tahun 1445 dan wafat tahun 1586. Usia beliau kurang
lebih 131 tahun. Oleh karenannya beliau mengalami banyak kekuasaan, diantaranya
pada akhir kekuasaan Kerajaan majapahit, kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon
dan Banten. Bahkan belaiu mengalami masa kesultanan Pajang.
Sunan kalijaga menikah dengan dua orang, yang pertama Dewi Saroh
binti maulana Ishaq, berputra tiga orang, yaitu : Raden Umar Said (sunan
Muria), Dewi Ruqayyah dan Dewi Sofiyah. Istri yang kedua bernama Dewi Sarokah
atau Siti Zaenab inti sunan Gunungjati. Istri pertama sunan kalijaga merupakan
suadara kandung Raden paku (suanan Giri). Sedangkan dengan Dewi sarokah
berputra 5 orang, yaitu : kanjeng ratu Pembayun (istri sultan trengono). Nyai
Agung Penenggak (istri Kyai pakar), sunan hadi (pengganti posisi suanan
kalijaga di kadilangu), Raden Abdurrahman dan Nyai Ageng Ngerang.
Menurut banyak versi, masa remaja Raden Sahid sangat nakal dan
sulit dikendalikan. Raden Sahid pernah di usir dari istana karena ketahuan
menjarah hasil bumi orang tuanya sendiri. Sehingga beliu dijuluki Raden
Lokajaya. Raden Sahid semakin leluasa karena kesaktiannya ang luar biasa, waktu
itu belum ada yang bisa menandinginya, kecuali suanan Bonang. Hanya sunan
Bonang yang sanggup membuat hati raden Sahid luluh dan kagum terhadap karamah
yang dimilkikinya.
Kekaguman Raden Sahid inilah yang mengantarkannya menjadi murid
sunan Bonang. Namun, suanan Bonang mau menerima menjadi murid asal Raden Sahid
sanggup menjaga tongkatnya di tepi kali (sungai). Setelah beberapa tahun, sunan
bonang kembali kesungai tersebut dan mendapati raden sahid masih berada di
sungai tersebut dan mendapati raden Sahid masih berada di sungai tersebut dan
setia menjaga tongkat sunan Bonang. Inilah kenapa raden Sahid di beri gelar
suanan kalijaga yang artinya suanan penjaga tongkat di dekat kali.
Raden Sahid kemudian diangkat menjadi anggota Walisongo bernama
raden Makhdum Ibrahim (suanan Bonang), raden paku (suanan Giri) dan raden Qasim
(Suanan Drajat) pada tahun 1463. Wilayah dakwahnya berada di daerah kadilangu,
demak, jawa tengah.
b.
Ajaran
Ajaran suanan kalijaga menjadi rujukan para ulama dan menjadi
panutan umat di jawa. Belau salah satu wali yang memprakarsai ajaran islam
berbasis tauhid yang dikombinasi dengan tradisi budaya jawa. Oleh karena itu, ajaran-ajaran
sunan Kalijaga lebih dekat dan dipterima oleh masyarakat. Diantara
ajaran-ajaran sunan Kalijaga adalah :
1)
Menciptakan
tradisi Qurban di demak
Sebelum tahun 1506, di Demak terdapat tradisi upacara Korban
rajaweda yang bertentangan dengan azas Islam. Dalam tradisi tersebut,
masyarakat berburu kerbau liar di hutan lalu disembelih tanpa memperdulikan
cacat atau tidaknya . darah hasil sembelihan kemudia diminumkan kepada peserta
ritual sebagai bentuk sesaji. Tujuan dari upacara ini adalah memberi sesaji
kepada syiwa budha agar tidak murka dan menimbulkan bencana bagi bagi rakyat
dan negara.
Oleh sunan kalijaga, tradisi tersebut di beri sentuhan Islam dengan
syariat-syariat yang sudah ditentukan. Disyaratkan harus binatang ternak
(kerbau, sapi, kambing) yang sehat, gemuk dan tidak cacat. Di sembelih setelah
shalat isul Adha oleh panitia dan darahnya dibuang. Dagingnya untuk
dibagi-bagikan kepada fakir miskin/yatim piatu. Tujuannyapun untuk shodaqoh
lidafil bala (untuk menolak bahaya), sebagai sarana bersyukur kepada Allah SWT.
2)
Pengajar
agama yanag mencintai kesenian
Kecintaannya terhadap tradisi dan kesenian jawa ini membuat jati
diri suanan kalijaga ini lebih elegan dari pada yang laian. Penampilan yang
njawani, tapi tidak ketinggalan. Justru suanan kalijaga berhasil menyerap
tradisi jawa kemudia dipadukan dengan ruh keislaman sehingga masyarakat
berduyun-duyun masuk islam.
·
Berkat
ajaran suanan Kalijaga inilah lahir tradisi-tradisi keislaman yang sampai
sekarang masih dilanggengkan, diantaranya adalah shaalat idul fitri, Qurban,
syawalan, tahlilan. Tradisi semacam inilah ternyata dapat menyatukan umat Islam
sehingga dapat memperkuat ajaran Ahlussunnah wal jamaah.
3)
Pencipta
filosofi jawa islam
Diantara filosofi tentang luku dan pacul yang memanfaatkan alat-alat
pertanian yang di gunakan masyarakat. Luku dan pacul dikenal luas oleh
masyarakat petani sebagai lambang kemakmuran. Maksud dari ajaran luku dan pacul
adalah :
a)
Luku,
terdiri dari tujuh bagian yaitu :
·
Pegangan,
artinya orang yang punya cita-cita harus mempunyai pegangan, yaitu AL-Qur’an
dan hadits
·
Pancadan,
mancad artinya jika sudah mempunyai pegangan,maka segeralah bertindak dan
jangan ditunda-tunda.
·
Tanding,
artinya setelah bertindak harus membanding-bandingkan dan memilih yang dianggap
lebih baik.
·
Singkal,
artinya metu saka ing akal. Setelah dipikir, dibandingkan dan diteliti, maka
tarik kesimpulan cara apa yanag yang dapat untuk mencapainya.
·
Kejen,
artinya kesawijen, yaitu kesatuan atau pemusatan akal (fokus).
·
Olang-aling,
artinya sesuatu yang menutupi sudah hilang atau cita-cita sudah nampak
bayangannya.
·
Racuk,
artinya ngarah ing pucuk, menghendaki derajat yang paling tinggi.
b)
Pacul,
terdiri dari atas tiga bagian
·
Pacul,
singkatan dari ngpatakekang muncul. Artinya dalam mengejar cita-cita tentu muncul
godaan yang harus disingkirkan.
·
Bawak,
singkatan obahimg awak. Artinya menggerakkan badan. Semua godaan harus dihadapi
dengan kerja keras.
·
Doran,
singkatan dari ndedongo ing pangeran. Berdoa kepada tuhan. Upaya mengejar
cita-cita tidak cukup hanya dengan usaha saja, melainkan harus dengan berdoa
kepada Allah swt.
c.
Peninggalan
Salah satu peran sunan kalijaga dalam penyebaran agama Islam di
tanah jawa adalah sebagai arsitek pembangunan masjid gung Demak, muali tahun
1477 M sampai 1479 M. Pembangunan masjid ini ditandai dengan “ Sengakala Memet”
atau gambar berbentuk bulus. Kereta basa “Bulus” yaitu yen mplebu kudu alus,
maksudnya siapun yang masuk masjid untuk beribadah harus lahir batinnya,
tawadhu merendahkan diri di hadapan Allah Swt. Diantara peninggalan-peninggalan
suanan Kalijaga antara laian :
1)
Makam
Sunan Kalijaga
Makam Sunan kalijaga terletak di desa Kadulangu kabupaten Demak
yang terletak sekitar 3 km dari alun-alun Demak atau masjid Agung Demak ke arah
Tenggara. Makam sunan Kalijaga sangat ramai diziarahi peziarah dari berbagai
wilayah.
2)
Saka
Tatal Sunan Kalijaga
Saka Guru Masjid Agung Demak terdiri atas 4 saka guru sebelah
tenggara dari suanan Ampel. Saka guru sebelah barat daya dari sunan Bonang.
Suanan Guangjati membuat saka guru sebelah timur laut dan saka guru sebelah
barat laut dibuat khusus oleh sunan kalijaga.
Saka yang dibuat oleh suanan Kalijaga tersebut dari “tatal” yaitu
potongan-potongan kayu yang diikat dengan rumput “lawatan”. Kemudian lebih
dikenal dengan sak tatal. Saka ini berdiameter 1,45 m dengan tinggi 32 m dan
berbentuk bulat yang mengandung falsafah
bersatu kita teguh bercerai kita runtuh.
3)
Menciptakan
Wayang Purwa (Wayang Kulit)
Kesenian pada masa majapahit yang sudah dinamakan wayang, yaitu
gambar yang dilukiskan diatas kertas lebar. Sementara wayang beber sudah punah
seiring runtuhnya kerajaan majapahit. Namun, oleh sunan kalijaga kesenian itu
dibangkitkan lagi supaya hidup kembali dengan media keislaman. Wayang yang
dibuat bahan kulit kambing inilah yang diberi nama wayang purwa, yang sekarang
lebih terkenal dengan istilah wayang pura.
4)
Menciptakan
2 perangkat Gamelan (kanjeng Kiai sekati dan Nyai Sekati)
Penamaan 2 perangkat gamelan ini melambangkan 2 kalimat syahadat
atau lebih dikenal dengan nama “sekaten”. Sesuai wasiat dari sunan Kalijaga
bahwa 2 perangkat gamelan tersebut harus sejodho (sepasang). Begitu juga dengan
lambang syahadat. Oleh karena itu, Kraton Kenunanan Surakarta yang hanya
menerima pembagian gamelan kanjeng Kiai Sekati, lalu dibuatlah pasangan baru (duplikat
kanjeng nyai Sekati) yang diberi nama “Guntur Madu” dan “guntur sari”. Begitu
juga, karton kesultanan Yogyakarta yang hanya menerima gamelan kanjeng Nyau
Sekati, maka dibuatlah pasangannya (duplikat kanjeng Kiai Seketi) dengan nama
“Guntur Madu “ dan “ Nogo Wilogo”.
5)
Menciptakan
lagu Dandanggula dan temabang lir-ilir
Dhandanggula merupakan salah satu tembang macapat yang setiap
baitnya terdiri dari 10 baris dengan guru wilangan dan guru lagu seperti ini :
10/l, 10/1, 8/e, 7/u, 9/i, 7/a, 6/u, 8/a, 12/l, 7/a. Sedangkan tembang lir-ilir
digunakan untuk memupuk semangat masyarakat supaya memahmi hakikat manusia,
yaitu beribadah kepada Allah Swt.
6)
Menciptakan
Desain baju taqwa
Baju
taqwa yang dimaksud diambil dari kata libasuttaqwa. Baju ini juga dikenal dengan
“baju koko”.
7)
Meninggalkan
dua karya Tulis yaitu Serat Dewa ruci dan suluk linglung
a)
Serat
Dewaruci
Serat
ini membahas tentang perjungan sunan Kalijaga yang mencari makna ajaran agam
islam yang paling dalam pada nabi Khidir.
b)
Suluk
Linglung
Suluk ini membahas tentang sunan Kalijaga ketika masih belajar
Islam, kemudian jatuh cinta kepada ajaran tersebut. Konon, ada pertanyaan yang
tak dapat dipercaya oleh gurunya sehingga beliau menjadi bimbang (linglung).
B.
Sunan Kudus
a.
Riwayat Hidup
Sunan Kudus bernama asli raden Amir haji atau Syekh ja’far Shodiq.
Lahir pada tanggal 9 September 1400 M / 808 H dan wafat 5 Mei 1550 M / 1958 H.
Sehingga diperkirakan usia beliau sekitar 150 tahun. Syekh Ja’far Shodiq
merupakan putra dari sunan Ngudung (Raden H. Usman Haji), penghulu dan panglima
Demak Bintoro dari jipang panolan.
Sebenarnya Syekh Ja’far Shodiq bukanlah asli penduduk Kudus,
meskipun putra dari panglima perang Demak. Beliau bersal dan lahir di daerah
Al-Quds yang merupakan wilayah negara Palestina. Beiau merupaan cucu Sayyid
Fadhol Ali Murtadlo seorang Sultan di Palestina. Kemudian bersama kakek, ayah
dan kerabatnya, Syekh Ja’far Shodiq hijrah ke jawa.
Syekh Ja’far Shodiq menikah dengan dua orang istri, yaitu Dewi
Rukhil binti raden Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang) dan dengan putri Adipati
tarung (Panglima majapahit). Dengan istri yang pertama, Syekh Ja’far Shodiq
mempunya pura tunggal yang bernama Amir Hasan. Sedangkan dengan istri kedua ,
Syekh ja’far Shodiq dikaruniai 8 anak yaitu : Nyi Ageng Pembayun, panembahan
palembang, panembahan makaos Ronggo Kusumo, pangeran Khodi, pangeran karimun,
Pangeran Sujoko, ratu Pakoja dan ratu Prada Binabar.
Dari pernikahan Syekh Ja’far Shodiq yang kedua terdapat keunikan
tersendiri karena istrinya itu merupakan putri Adipati Terung, panglima perang
majapahit yang membunuh sunan Ngudung. Ayah Syekh ja’far Shodiq sendiri.
Setelah mengetahui raja Demak raden fatah, adipai tarung kemudian memihak demak
dengan alasan karena raden fatah merupakan kakaknya. Akhirnya adipati tarung
masuk islam dan salah satu putrinya dinikahi oleh Syekh Ja’far Shodiq.
Dalam mempelajari ilmu agama, disamping beliau diajarkan langsung
oleh ayahnya sendiri, Syekh Ja’far Shodiq juga berguru dengan Kiai Telingsing
dan sunan Ampel. Kiai telingsing merupakan tokoh yang babad alas kudus yang
waktu itu masih bernama tajud. Beliau merupakan seorang China islam yang
bernama aslinya adalah The Ling Sing. Peran Kiai telingsing sangat besar
terhadap kepribadian Syekh Ja’far Shodiq. Beliau tumbuh menjadi pribadi yang cerdas,
kreatif dan disiplin dalam meyebarkan agama islam.
Dalam penyebaran Islam, Syekh Ja’far Shodiq menjadi guru dan ulama
besar bagi daerah Kudus, Jawa Tengah dan sebagian daerah pesisir utara. Bidang
keilmuan yang diajarkan diantaranya Ilmu tauhid, Hadis, Ushul Fiqih, sastra,
Hukum islam dan peradilan. Shingga beliau mendapat gelar guru Akbar dengan
predikat Waliyyul ilmi.
Syekh Ja’far Shodiq nampaknya lebih condong mengiuti gaya sunan
kalijaga dalam berdakwah, yaitu lebih bijaksana dan kompromistis dalam menyebarkan
ajaran Islam. Oleh karena itu, sunan Kudus berguru dengan Sunan kalijaga.
Sehingga cara berdakwahnya tidak berbeda jauh dengan gurunya. Suatu ketika,
Syekh ja’far Shodiq pernah mengikat seekor lembu yang sangat dihormati oleh
masyarakat Hindu dan diikat disekitar masjid. Masyarakat Hindu merasa dihormati
oleh Syekh Ja’far Shodiq, sebaian besar mereka akhirnya memeluk islam.
b.
Ajaran
Syekh Ja’far Shodiq sangat peduli dengan wong chilik (orang
miskin/tidak mampu) dan anak-anak yatim. Beliau ajak orang-orang yang berlebih
harta untuk mendermakan sebagian harntanya supaya tercipta tatanan masyarakat
yang berkemakmuran. Meski awalnya sangat kesulitan untuk mengeluarkan shodaqoh,
berkat kesabaran dan kebijaksanaan Syekh ja’far Shodiq merekapun luluh dan para
saudagar serta orang-orang kaya itupun sadar dan insaf mendukung kepentingan
dakwah islam.
Ajaran sunan Kudus berbentuk pesan-pesan dan perintah yang
terkandung di dalamnya nilai-nilai keimanan, ketakwaan, toleransi dan
kebijaksanaan. Diantara ajaran-ajaran belaiu adalah :
1.
Harus
mengetahui pengetahuan yang benar
2.
Mengambil
keputusan yang benar
3.
Berkata
yang benar
4.
Hidup
dengan cara yang benar
5.
Beribadah
dengan cara yang benar
6.
Menghayati
agama dengan benar.
Ajaran sunan
Kudus tersebut secara tidak langsung mengarah pada keimanan dan ketakwaan.
Sedangkan ajaran Sunan kudus yang berhubungan dengan toleransi dan
kebijaksanaan adalah :
Ora kena dhahar iwak sapi
Ora kena ngunjuk powan sapi
Ora kena sikara marang macan
Ora kena laku durjana
Ora kena ngunjuk wargang
Ora kena dhahar iwak celeng
Ora kena dhahar iwak gangsir
Ora kena kesed
Ora kena nganaake duwet
Artinya :
Tidak boleh makan daging sapi
Tidak boleh minum susu sapi
Tidak boleh menyiksa macan
Jangan mengerjakan kesesatan
Jangan minum arak
Tidak boleh makan daging babi
Tidak boleh makan daging serangga
Tidak boleh malas
Tidak boleh riba
Tidak boleh dagang dengan mengambil hasil yang banyak
c.
Peninggalan
1)
Makam
Sunan Kudus
Makam Syekh ja’far Shodiq terletak di belakang Masjid Al Aqso dan
berada di desa Kauman, Kecamatan Kota, kabupaten Kudus. Pada pintu makamnya,
terukir kalimat asma’ul husna yang berangka tahun 1296 Hijriyah atau 1878 M.
Makam tersebut terlidungi oleh cungkup tunggal dengan bentuk limasan.
2)
Masjid
AL Aqsa (Masjid menara Kudus)
Masjid AL Aqso didirikan pada tahun 956 H atau 1549 M. Dalam
enkripsi di masjid itu terdapat kalimat dalam bahasa Arab yanag artinya
“....telah mendirikan masjid Aqso ini di negri Quds..”. sejak itu kota Tajug
(nama sebelum Kudus) berunah menjadi Quds, orang jawa menyebutnya dengan nama
Kudus.
3)
Menara
Kudus
Di masjid Kudus terdapat subuah menara yang unik, sangat terkenal
dan menjadi ikon kota Kudus. Menara ini berbeda dengan menara masjid-masjid
manapun berada. Uniknya, menara itu meyerupai candi masyarakat Hindu. Hal ini
menunjukkan bahwa sunan Kudus itu peduli dengan kultur masyarakat lokal setempat.
Tujuan sunan Kudus membentuk seperti itu adalah untuk menarik simpati orang
jawa yang beragama islam, sehingga mereka tidak canggung memasuki masjid. Jika
sudah masuk masjid, sunan kudus dapat menyampaikan ajaran-ajarannya.
C.
Sunan Muria
a.
Riwayat Hidup
Sunan Muria
merupakan putra kandung raden mas Sayhid (sunan kalijaga) dengan Dewi Saroh dan
merupakan cucu dari Syeikh maulana Ishaq (suanan Giri). Menikah dengan Dewi Sujinah,
putri suanan Ngundung dan akak kandung suanan Kudus. Sehingga sunan Muria
merupakan adik ipar dari sunan Kudus.
Dikenal dengan sunan Muria karena
beliau berdakwah di sekitar Gunung Muria dan tinggal di salah satu puncaknya
yang bernama desa Colo kecamatan Dawe, 18 Kmsebelah utara kabupaten Kudus dalam
versi lain dikatakan bahwa kata “Muria” sering diidentifikasikan dengan nama
sebuah bukit di palestina yang bernama Moriah. Di bukit inilah, nabi daud dan
nabi Sulaiman membangun tempat ibadah. Kisah ini memberikan inspirasi Raden
umar Said sehingga menamakannya dengan gunung Muria. Dikarenakan belum ada
bukti sejarah yang menunjukkan kapan suana muria lahir dan wafat, maka di
perkirakan lahirnya abad ke 15 dan wafat pada abad ke 16 sebagaimana ayahnya
raden Umar Said berdakwah dengan menggunakan pendekatan yang halus dan penuh
kebijaksanaan. Pendekatan kesenianpun di lakukan supaya lebih dekat dengan
masyarakat seperti mempertahankan gamelan dan wayang sebagai media dakwah
paling digemari. Sasaran dakwah beliau adalah para pedagang, nelayan, pelaut,
dan rakyat jelata.
b.
Ajaran
Strategi yang diterapkan oleh sunan Muria nampaknya berhasil dihati
masyarakat melalui pendekatan kesenian dan kebudayaan inilah tradisi-tradisi
yang berbau klenik, seperti membakar kemenyan, dapat diberi ruh keislaman
lambat laun masyarakat meninggalkan tradisi-tradisi lama dan muai hidup baru
dengan ajaran yang disampaikan oleh Sunan Muria. Ajaran-ajaran Sunan Muria
hanya sedikit yang dapat diketahui, meskibegitu ajaran di bawah ini merupakan
ajaran lisan yang di wariskan secara turun temurun oleh keluarga dan para
santri-santrinya. Ajaran ajaran tersebut adalah :
·
Owah
gingsiring kahanan iku saka karsaning Pangeran kang Murbeng jagad
·
Ora
ana kesakten sing madhani papesthen, awit papesthen iku wis ora ana sing bisa
murungake
·
Bener
kang asale saka pangeran iku lamun ora darbe sipat angkara murka lan seneng
gawe sangsaraning liyan
·
Ing
donya ki ana rong wara sing diarani bener, yakuwi bener munggihing pangeran lan
bener saka kang lagi kuawasa.
Untuk lebih jelasnya, secara terperinci akan dijelaskan sebagai
berikut :
1.
Owah
gingsiring kahanan iku saka karsaning pangeran kang murbeg jagad (perubahan keadaan itu atas kehendak tuhan)
Raden Umar Said mengajarkan bahwa apa yang terjadi dalam kehidupan
ini atas kehendak Allah Swt. Manusia tidak bisa mengubah keadaan kecuali atas
kehendaknya namun bukan berarti manusia tidak memiliki peran apapun di dunia.
Justru manusia di tuntut untuk berubah dan berbuat sesuatu dengan berkerja dan
berusaha untuk hidup yang lebih baik. Perubahan-perubahan yang di peroleh itu
tak lain atas kehendak dan ridho dari Allah Swt.
2.
Ora
ana kesakten sing madhani papesthen, awit paphesten iku wis ora ana sing bisa
murungake (tiada kesaktian yang menyamai
kepastian Tuhan karena tidak ada yang dapat menggagalkan kepastian-Nya)
Pada zaman dahulu maupun sekarang masih banyak orang yang ingin
memiliki kesaktian dengan tujuan untuk melindungi dari bahaya namun sebagian
lagi bertujuan untuk menyombongkan diri. Nah inilah yang di didik raden umar
said, beliau perlahan mengajarkan kepada maosyarakat yang menyombongkan diri
perlu ditegaskan bahwa tidak ada kesaktian yang bisa menyaingi kepastian Allah
Swt.
3.
Bener
kangasale saka pangeran iku lamun ora darbe sipat angkara murka lan seneng gawe
sangsaraning liyan (benar yang
berasal dari tuhan itu apabila tiada sifat angkara murka dan tidak suka
menyengsarakan orang lain)
Dalam pesan ini Raden Umar said menegaskan akan pentingnya
kasihsayang terhadap sesama manusia. Mengasihi dan menyanyangi orang lain
sangat di tekankan oleh agama sedangkan sifat angkara murka dan suka
mencelakakan orang lain akan dilaknat oleh agama. Setiap orang ingin di kasihi
dan disayangi namun sebaliknya tidak ingin dibenci dan dicelakai oleh karena
itu beliau berpesan untuk meperbanyak kasihsayang, tolong-menolong dan
persaudaraan.
4.
Ing
donya ki ana rong wara sing diarani bener, ya kuwi bener mungguhing pangeran
lan bener saka kang lagi kuasa (di
dunia ini ada dua macam kebenaran, yaitu benar di hadapan tuhan dan benar di
hadapan penguasa)
Sangat tegas raden umar said mengatakan bahwa benar dihadapan hukum
yang dibuat manusia belum tentu benar di hadapan hukum Allah Swt. Begitu juga
sebaliknya. Para penguasa membuat aturan-aturan untuk kepentingan golongannya
sndiri. Dalam perkembangan zamn inipun, hukum juga dapat di beli oleh orang
yang mempunyai uang sehingga muncul istilah mengenai hukum kita “tumpul keatas,
tajam kebawah “.
c.
Peninggalan
1)
Makam
Suanan Muria
Makam Suanan Muria berada dilereng Gunung Muria yang berada pada
ketinggian 845,41 m dpl. Untuk menempuhnya membutuhkan perjuangan khusus,
kerena jarak tempuhnya kurang lebih 750 m. Itupun harus ditempuh dengan jalan
kaki, menaiki tap-trap (undhag undhagan) dari beton. Bagi peziarah yanag tidak
mampu manapakinya terdapat “Ojek Muria, tukang ojek yang siap mengatarkan
peziarah menuju makam. Luas komplek makam sekitar 4,75 ha.
Makam terlindungi oleh cungkup dengan konstruksi kayu dan bertap
joglo tumpang dua dengan atap sirap. Makam suanan muria ini ramai diziarahi
dari berbagai wilayah, terutama pada kamis legi dan jum’at pahing.
2)
Masjid
Sunan Muria
Lokasi
masjid suanan muria masih berada di area makam sunan muria. Sehingga untuk
menuju masjid ini sama dengan menuju ke makam.
3)
Tembang
macapat, Sinam dan kinanti
Tembang
sinom terdiri atas 9 baris guru wilangan dan guru swara sebagai berikut : 8/a,
8/i, 8/a, 8/i, 7/i, 8/u, 7/a, 8/i, 12/a. Biasanya tembang ini menampilkan
suasana yang menyentuh hati.
Contoh
tembang sinom :
Sang
prabu prapta blambangan (8/a)
Kendel
margi pinggir beji (8/i)
Ratu
agung Biananthara (8/a)
Nyakrawati
mukti-sari (8/i)
Mangkya
nahen prihatin (7/i)
Rekasa
ing tindakipun (8/u)
Kang
munggeng ngarsanira (7/a)
Dasih
tebih datan tebih (8/i)
Sabdapalon
nayagenggong gegujengan (12/a)
Artinya
:
Seri
baginda (Drawijaya) tiba di balmbangan
Berhenti
di jalan beristirahat di dangau
Raja
Agung sebagai dewa
Penguasa
dunia dan berbahagia
Sekarang
mennggung sedih
Sulit
dalam perjalanan
Yang
duduk di depan beliau
Abdi
kekasih tidak jauh
Sabda
palon dan nayagenggong sedang bersenda gurau
Sedangkan
tembang kinanti satas etiap baitnya terdiri atas 6 baris guru wilangan dan guru
swara sebagai berikut : 8/u, 8/i, 8/a, 8/i, 8/a, 8/i. Umumnya tembang ini
berisi syair-syair yang bersuasana senang, gembira, penuh kasih sayang dan rasa
cinta.
Contoh
tembang kinanti :
Anoman
malumat sampu (8/u)
Prapten
witing nagasari (8/i)
Mulat
mangandhap katingal (8/a)
Wanodya
yu kuru aking (8/i)
Gelung
rusak awor kisma (8/a)
Ingkang
iga-iga keksi (8/i)
Artinya
:
Anoman
telat melompat
Sampai
diatas pohon nagasari
Melihat
kebawah terlihat
Wanita
cantik dan kurus kering
Sanggul
rusak bercampur tanah
Tulang
iganya kelihatan

Komentar
Posting Komentar